Bila Hati Ini Rindu Haji

hajj

Meski tak ada air terjun seindah Niagara di tempat ini. Tak ada pula aneka taman bunga yang indah berseri. Ataupun dunia fantasi yang menyenangkan buah hati. Tapi semua pengunjung merasa nyaman di tempat ini. Banyak hati rindu untuk mendatangi, dan banyak doa terlantun agar bisa mendatangi.

Itulah Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah dimana Ka’bah berada didalamnya. Tak ada tempat ibadah ataupun wisata manapun yang lebih banyak dikunjungi dari tempat ini. Dan tak ada lokasi yang lebih mengesankan dan lebih dirindukan berkali-kali melebihi tempat ini.

Sudah Selayaknya Hati Ini Rindu

Bagaimana seorang muslim tidak merindukannya. Disitulah tempat dimana Islam bermula, tempat dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan. Disitulah banyak peristiwa besar dan mengesankan terjadi dalam sejarah. Membaca dan mengingat sejarahnya saja, membuat hati kita haru, lantas bagaimana kiranya tatkala kita bisa menginjakkan kaki di sana.

Namun kerinduan seorang muslim bukan semata-mata karena faktor nostalgia sejarah. Lebih dari itu, banyak sisi fadhilah dan keutamaan yang bisa didapatkan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menyebutkan dalam Zaadul Ma’ad, “ Allah Ta’ala telah memilih beberapa tempat dan negeri. Negeri terbaik serta termulia jatuh pada tanah Haram. Karena Allah Ta’ala telah memilih bagi nabi terakhir dari tempat tersebut dan menjadikannya sebagai tempat manasik dan sebagai tempat menunaikan kewajiban. Orang dari dekat maupun jauh dari segala penjuru akan mendatangi tanah yang mulia itu.”

Itulah tempat yang diberkahi sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96).

Begitu mulianya tempat itu, hingga shalat didalamnya lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Albani mengatakan “shahih”)

Wajar jika melihat manusia berduyun-duyun memakmurkan Masjidil Haram setiap waktu. Bahkan hinggga kini, terbilang sulit untuk mencari tempat sujud di dalamnya, terutama di bulan Ramadhan dan musim haji. Bukan karena sempitnya tempat, tapi karena saking banyaknya manusia yang ingin mendapatkan tempat sujud di dalamnya. Butuh kesungguhan dan dating lebih awal untuk mendapatkan tempat sujud dengan nyaman.

Ritual Ibadah Tingkat Tinggi

Ke tempat yang mulia itu pula Allah Ta’ala mengundang seluruh manusia untuk haji dan beribadah kepada-Nya, bahkan undangan ini berlaku sejak Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diperintahkan untuk menyeru manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang dating dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Sungguh merupakan karunia yang besar jika kita termasuk orang-orang yang diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendatangi undangan yang mulia ini.

Haji adalah ritual ibadah tingkat tinggi. Dimana semua potensi dilibatkan dalam prosesnya. Harta yang tidak sedikit harus dicurahkan, segenap tenaga harus dikerahkan, ketegaran mental dan hati mutlak diperlukan. Namun itu semua tak menciutkan nyali orang-orang yang telah merindukannya. Karena hasil yang bisa diraih lebih hebat lagi dari usaha yang dikerahkan.

Betapa tidak, ibadah haji mampu membersihkan dosa-dosa yang kita ‘produksi’ setiap waktunya. Hingga kesempurnaan haji bisa menjadi sebab terhapusnya dosa secara total. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata jorok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan besarnya pengorbanan para hujjaj tersebut, tidak ada reward atau balasan yang bisa menutup dan mencukupinya selain jannah. Terlalu remeh jika balasan haji hanya sebatas gelar haji, sebatas bertambahnya relasi atau lancarnya rejeki. Bahkan kenikmatan dunia dan seisinya masih terlalu remeh dan belum cukup untuk mengganjar orang yang berhaji. Dan hanya jannah yang sepadan dan layak diberkan sebagai balasan bagi orang yang berhaji. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan (yang layak) selain jannah.” (HR. Bukhari)

Jadi, hadits ini tidak mengingkari kemungkinan adanya faedah dan keberkahan duniawi yang diperoleh bagi orang yang berhaji. Akan tetapi, sebagai penekanan bahwa hanya jannah yang bisa mencukupi keutamaan orang yang berhaji.

Apa Daya, Bekal Tiada

Meskipun semua orang merindukannya, belum tentu semua mampu menunaikannya. Karenanya, kewajiban haji berlaku hanya bagi orang yang mampu menempuh perjalanannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Biasanya, tatkala seseorang membaca ayat ini otomatis tergambar bahwa hanya orang kaya yang bisa berhaji. Sehingga orang-orang yang belum dikarunia kecukupan harta menjadi ciut nyalinya. Dan tak sedikit diantara kaum muslimin yang belum ada gambaran di benaknya untuk berhaji lantaran melihat minimnya ekonomi.

Ia lupa, bahwa ternyata tak sedikit orang yang miskin namun Allah takdirkan bisa menginjakkan kakinya di tanah suci. Sangat menarik dialog seorang tabi’in, Ibrahim bin Adham dengan seseorang yang hendak berhaji. Suatu kali seseorang yang mengendarai unta melewati Ibrahim bin Adham yang sedang berjalan kaki, lalu menyapa,

“Hendak kemana anda pergi wahai Ibrahim?” Beliau menjawab, “Saya hendak pergi berhaji.” Orang itu heran dan berkata, “Mana kendaraanmu? Bukankah jalan menuju Mekkah itu jauh?” Beliau menjawab, “Saya memiliki banyak kendaraan yang anda tidak melihatnya.” Makin penasaranlah orang itu, lalu bertanya kembali, “Kendaraan apa itu?” Beliau menjawab, “Jika terjadi musibah, kendaraanku adalah sabar, jika mendapatkan nikmat kendaraanku adalah syukur, dan jika takdir turun, kendaraanku adalah ridha.”

Beliau tidak bermaksud mengesampingkan kendaraan pengangkut fisik maupun perbekalan materi. Namun dengan kesiapan hati dan kekuatan mentalnya, seseorang akan mampu mencapai tanah suci atau setidaknya memperoleh pahala haji.

Awali dengan Niat, Tempuh Jalan yang Mampu Diperbuat

Yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang merindukan haji adalah mengawalinya dengan niat. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, ia tak akan luput dari pahala haji. Bisa jadi dengan niat dan tekadnya yang tulus Allah berkenan member kemudahan jalan yang tak disangka-sangka. Dan kisah tentang ini bertebaran dari zaman ke zaman.

Atau jika ternyata Allah tidak mentakdirkan ia sampai ke Baitullah, ia tetap mendapatkan pahala haji karena niatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Perumpamaan umat ini seperti perumpamaan empat golongan; ada orang yang dikaruniai  Allah keluasan harta dan ilmu, maka dia mengelola hartanya dengan ilmunya dan ia tunaikan sesuai haknya. Ada orang (kedua) yang tidak dikaruniai kecukupan harta, lalu dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki  harta seperti dia, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia perbuat’. Lalu Rasulullah bersabda, “Maka keduanya mendapatkan pahala yang sama.” (HR. Ibnu Majah)

Maka tatkala seseorang belum diberi karunia harta, lalu ia melihat ada orang kaya yang menggunakan hartanya untuk berhaji dan ia bercita-cita seperti itu, niscaya ia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berhaji.

Tersebut dalam hadits Al-Bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan dia belum mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.” (HR. Bukhari)

Sebagai bukti akan tekad dan niatnya, ia tidak akan tinggal diam. Ia akan berusaha semampunya untuk bisa menjalankannya. Jika seseorang terhalang haji karena kuota yang terbatas, atau antrian terlalu panjang, atau sebab lain sementara dia mampu menempuh perjalanan umroh di bulan lain, hendaknya ia melakukannya.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka apabila datang ramadhan, ber-umrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” Dalam riwayat lain, “Seperti haji bersamaku.”

Ibnu Rajab Rahimahullah dalam ‘Lathaif al-Ma’arif’ berkata, “Dan ketahuilah, orang yang tak mampu dari satu amal kebaikan dan bersedih serta berangan-angan bisa mengerjakannya maka ia mendapat pahala bersama dengan orang yang mengerjakannya.” Lalu beliau menyebutkan riwayat tersebut sebagai satu contohnya.

Semoga Allah Jalla wa ‘ala memudahkan kita untuk ziarah dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang mulia. Allohumma aamiin.

*)Fursanul Izzah – 15 Oktober 2013/10 Dzulhijjah 1434 H, dalam kerinduanku untuk dapat menunaikan ibadah Haji ke Baitullah

[Source : ar-risalah vol.XII no.4/12]

Bila Hati Ini Rindu Haji

Meski tak ada air terjun seindah Niagara di tempat ini. Tak ada pula aneka taman bunga yang indah berseri. Ataupun dunia fantasi yang menyenangkan buah hati. Tapi semua pengunjung merasa nyaman di tempat ini. Banyak hati rindu untuk mendatangi, dan banyak doa terlantun agar bisa mendatangi.

Itulah Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah dimana Ka’bah berada didalamnya. Tak ada tempat ibadah ataupun wisata manapun yang lebih banyak dikunjungi dari tempat ini. Dan tak ada lokasi yang lebih mengesankan dan lebih dirindukan berkali-kali melebihi tempat ini.

Sudah Selayaknya Hati Ini Rindu

Bagaimana seorang muslim tidak merindukannya. Disitulah tempat dimana Islam bermula, tempat dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan. Disitulah banyak peristiwa besar dan mengesankan terjadi dalam sejarah. Membaca dan mengingat sejarahnya saja, membuat hati kita haru, lantas bagaimana kiranya tatkala kita bisa menginjakkan kaki di sana.

Namun kerinduan seorang muslim bukan semata-mata karena faktor nostalgia sejarah. Lebih dari itu, banyak sisi fadhilah dan keutamaan yang bisa didapatkan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menyebutkan dalam Zaadul Ma’ad, “ Allah Ta’ala telah memilih beberapa tempat dan negeri. Negeri terbaik serta termulia jatuh pada tanah Haram. Karena Allah Ta’ala telah memilih bagi nabi terakhir dari tempat tersebut dan menjadikannya sebagai tempat manasik dan sebagai tempat menunaikan kewajiban. Orang dari dekat maupun jauh dari segala penjuru akan mendatangi tanah yang mulia itu.”

Itulah tempat yang diberkahi sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96).

Begitu mulianya tempat itu, hingga shalat didalamnya lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Albani mengatakan “shahih”)

Wajar jika melihat manusia berduyun-duyun memakmurkan Masjidil Haram setiap waktu. Bahkan hinggga kini, terbilang sulit untuk mencari tempat sujud di dalamnya, terutama di bulan Ramadhan dan musim haji. Bukan karena sempitnya tempat, tapi karena saking banyaknya manusia yang ingin mendapatkan tempat sujud di dalamnya. Butuh kesungguhan dan dating lebih awal untuk mendapatkan tempat sujud dengan nyaman.

Ritual Ibadah Tingkat Tinggi

Ke tempat yang mulia itu pula Allah Ta’ala mengundang seluruh manusia untuk haji dan beribadah kepada-Nya, bahkan undangan ini berlaku sejak Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diperintahkan untuk menyeru manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang dating dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Sungguh merupakan karunia yang besar jika kita termasuk orang-orang yang diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendatangi undangan yang mulia ini.

Haji adalah ritual ibadah tingkat tinggi. Dimana semua potensi dilibatkan dalam prosesnya. Harta yang tidak sedikit harus dicurahkan, segenap tenaga harus dikerahkan, ketegaran mental dan hati mutlak diperlukan. Namun itu semua tak menciutkan nyali orang-orang yang telah merindukannya. Karena hasil yang bisa diraih lebih hebat lagi dari usaha yang dikerahkan.

Betapa tidak, ibadah haji mampu membersihkan dosa-dosa yang kita ‘produksi’ setiap waktunya. Hingga kesempurnaan haji bisa menjadi sebab terhapusnya dosa secara total. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata jorok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan besarnya pengorbanan para hujjaj tersebut, tidak ada reward atau balasan yang bisa menutup dan mencukupinya selain jannah. Terlalu remeh jika balasan haji hanya sebatas gelar haji, sebatas bertambahnya relasi atau lancarnya rejeki. Bahkan kenikmatan dunia dan seisinya masih terlalu remeh dan belum cukup untuk mengganjar orang yang berhaji. Dan hanya jannah yang sepadan dan layak diberkan sebagai balasan bagi orang yang berhaji. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan (yang layak) selain jannah.” (HR. Bukhari)

Jadi, hadits ini tidak mengingkari kemungkinan adanya faedah dan keberkahan duniawi yang diperoleh bagi orang yang berhaji. Akan tetapi, sebagai penekanan bahwa hanya jannah yang bisa mencukupi keutamaan orang yang berhaji.

Apa Daya, Bekal Tiada

Meskipun semua orang merindukannya, belum tentu semua mampu menunaikannya. Karenanya, kewajiban haji berlaku hanya bagi orang yang mampu menempuh perjalanannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Biasanya, tatkala seseorang membaca ayat ini otomatis tergambar bahwa hanya orang kaya yang bisa berhaji. Sehingga orang-orang yang belum dikarunia kecukupan harta menjadi ciut nyalinya. Dan tak sedikit diantara kaum muslimin yang belum ada gambaran di benaknya untuk berhaji lantaran melihat minimnya ekonomi.

Ia lupa, bahwa ternyata tak sedikit orang yang miskin namun Allah takdirkan bisa menginjakkan kakinya di tanah suci. Sangat menarik dialog seorang tabi’in, Ibrahim bin Adham dengan seseorang yang hendak berhaji. Suatu kali seseorang yang mengendarai unta melewati Ibrahim bin Adham yang sedang berjalan kaki, lalu menyapa,

“Hendak kemana anda pergi wahai Ibrahim?” Beliau menjawab, “Saya hendak pergi berhaji.” Orang itu heran dan berkata, “Mana kendaraanmu? Bukankah jalan menuju Mekkah itu jauh?” Beliau menjawab, “Saya memiliki banyak kendaraan yang anda tidak melihatnya.” Makin penasaranlah orang itu, lalu bertanya kembali, “Kendaraan apa itu?” Beliau menjawab, “Jika terjadi musibah, kendaraanku adalah sabar, jika mendapatkan nikmat kendaraanku adalah syukur, dan jika takdir turun, kendaraanku adalah ridha.”

Beliau tidak bermaksud mengesampingkan kendaraan pengangkut fisik maupun perbekalan materi. Namun dengan kesiapan hati dan kekuatan mentalnya, seseorang akan mampu mencapai tanah suci atau setidaknya memperoleh pahala haji.

Awali dengan Niat, Tempuh Jalan yang Mampu Diperbuat

Yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang merindukan haji adalah mengawalinya dengan niat. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, ia tak akan luput dari pahala haji. Bisa jadi dengan niat dan tekadnya yang tulus Allah berkenan member kemudahan jalan yang tak disangka-sangka. Dan kisah tentang ini bertebaran dari zaman ke zaman.

Atau jika ternyata Allah tidak mentakdirkan ia sampai ke Baitullah, ia tetap mendapatkan pahala haji karena niatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Perumpamaan umat ini seperti perumpamaan empat golongan; ada orang yang dikaruniai  Allah keluasan harta dan ilmu, maka dia mengelola hartanya dengan ilmunya dan ia tunaikan sesuai haknya. Ada orang (kedua) yang tidak dikaruniai kecukupan harta, lalu dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki  harta seperti dia, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia perbuat’. Lalu Rasulullah bersabda, “Maka keduanya mendapatkan pahala yang sama.” (HR. Ibnu Majah)

Maka tatkala seseorang belum diberi karunia harta, lalu ia melihat ada orang kaya yang menggunakan hartanya untuk berhaji dan ia bercita-cita seperti itu, niscaya ia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berhaji.

Tersebut dalam hadits Al-Bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan dia belum mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.” (HR. Bukhari)

Sebagai bukti akan tekad dan niatnya, ia tidak akan tinggal diam. Ia akan berusaha semampunya untuk bisa menjalankannya. Jika seseorang terhalang haji karena kuota yang terbatas, atau antrian terlalu panjang, atau sebab lain sementara dia mampu menempuh perjalanan umroh di bulan lain, hendaknya ia melakukannya.

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka apabila dating ramadhan, ber-umrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” Dalam riwayat lain, “Seperti haji bersamaku.”

Ibnu Rajab Rahimahullah dalam ‘Lathaif al-Ma’arif’ berkata, “Dan ketahuilah, orang yang tak mampu dari satu amal kebaikan dan bersedih serta berangan-angan bisa mengerjakannya maka ia mendapat pahala bersama dengan orang yang mengerjakannya.” Lalu beliau menyebutkan riwayat tersebut sebagai satu contohnya.

Semoga Allah Jalla wa ‘ala memudahkan kita untuk ziarah dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang mulia. Allohumma aamiin.

*) Fursanul Izzah – 15 Oktober 2013 / 10 Dzulhijjah 1434 H, Dalam kerinduan yang mendalam untuk dapat menunaikan ibdah Hajji ke Baitullah

Source : [ar-risalah vol.XII no.4/12]

Posted in Catatanku | Leave a comment

Seruan dari Masjid Nabawi untuk Rakyat Mesir: Kembalilah ke Rumah-rumah Kalian

mesir

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikhuna Al-’Allaamah DR. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi hafizhahullah berkata pada majelis beliau di Masjid Nabawi, Madinah, kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Terjadinya banyak pembunuhan termasuk tanda-tanda kiamat, apa yang terjadi saat ini secara khusus di negeri-negeri muslim dan di dunia internasional termasuk tanda-tanda kiamat, yaitu banyaknya pembunuhan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Terkadang pembunuh tidak tahu kenapa ia harus membunuh, ia melihat manusia melakukan sesuatu maka ia pun ikut membidikkan senjatanya sebagaimana kondisi orang-orang dari suku terasing Arab yang selalu berteriak layaknya binatang dan saling membunuh antara satu dengan yang lainnya hanya demi revolusi pemberontakan, sepotong roti, rasa lapar atau karena membela seorang tokoh, padahal bisa jadi tokoh tersebut adalah seorang thagut.

Dan semua yang mati dianggap syahid meski seorang Yahudi, Nasrani atau musyrik penyembah kubur, semua syahid menurutnya, yaitu menurut seorang –yang sayang sekali ia dianggap ulama oleh media, yang umurnya sudah sangat tua- ia selalu berbicara ngawur bahwa (orang-orang yang terbunuh karena revolusi pemberontakan, sepotong roti, rasa lapar atau karena membela seorang tokoh) adalah syuhada, bahkan ia meminta untuk mendapatkan kesyahidan seperti mereka, dan ini –kita berlindung kepada Allah- adalah penyimpangan dan kesesatan.

Sayangi dirimu wahai Akhi, sembahlah Robbmu, kembalilah kepada Allah ‘azza wa jalla, apalagi Anda sudah berumur 90 tahun lebih, meskipun semuanya pasti mati tanpa melihat usia tua atau muda. Akan tetapi engkau telah menghiasi kebatilan sehingga nampak sebagai kebenaran dan engkau melampaui batas dalam perkara ini, maka berhati-hatilah wahai Ikhwan.

Berdoalah kepada Allah untuk negeri-negeri Islam yang tersebar padanya kekacauan-kekacauan ini, dan berdoalah kepada Allah agar melindungi negeri-negeri kaum muslimin dari berbagai malapetaka ini, dimana seorang pembunuh tidak tahu kenapa ia membunuh dan yang terbunuh juga tidak tahu kenapa ia dibunuh, akan tetapi ia akan berdiri di hadapan Allah ‘azza wa jalla sambil membawa kepalanya dengan kedua tangannya dan mengatakan kepada pembunuh “Kenapa engkau membunuhku?”

Kemudian, kenapa engkau menambah kekacauan (demonstrasi) yang begitu banyak manusia telah terlibat ini, maka di manakah agama, di manakah Islam, di manakah akalmu?!

Wahai Akhi, tatkala Sumayyah terbunuh dengan cara yang keji, kaum muslimin tidak melakukan demonstrasi dan turun serta berteriak-teriak di jalan-jalan. Tatkala orang-orang Yahudi berusaha membunuh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kaum muslimin tidak melakukan demontrasi, tetapi menegakkan jihad di jalan Allah dan mengeluarkan Yahudi dari Madinah dengan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Permasalahannya, dengan demonstrasi ini, kalian memenuhi lapangan-lapangan dengan laki-laki dan wanita, dan terjadilah penindasan dan pelanggaran kehormatan, perzinahan, khamar, kurangnya rasa malu, nyanyian dan ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita, apakah ini dari agama Allah?!

Demi Allah, sesungguhnya Barat telah menipu kalian wahai orang-orang yang telah mati hatinya, yang berteriak-teriak di lapagan-lapangan seperti keledai.

Bertakwalah kepada Allah, kembalilah ke rumah-rumah kalian -sampaikan kepada mereka risalah ini wahai hadirin, katakan kepada mereka- hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan kembali ke rumah-rumah mereka, dan tetap tinggal di rumah-rumah mereka, daripada berteriak-teriak di jalanan.

Bertakwalah kepada Allah di bumi Kinanah, yang demi Allah bumi yang kami anggap mulia, akan tetapi banyak penduduknya yang tidak memuliakannya, andaikan mereka memuliakannya maka tentunya mereka tidak akan melakukan perbuatan ini.

Aku mohon kepada Allah agar melindungi mereka dari kejelekan fitnah ini, dan agar mengembalikan mereka kepada kebenaran dan menjauhkan mereka dari para pembuat onar di antara mereka, yang selalu mengobarkan kekacauan yang berbahaya ini.

Saat ini Barat, yaitu Amerika dan selain mereka mengatakan bahwa, “Kami yang akan mendamaikan antara kelompok-kelompok Islam yang bertikai.” Maka kalianlah yang menyebabkan mereka berani memasuki negeri kalian.

Masya Allah, sampai Yahudi penjajah Palestina pun berkata, “Kami akan masuk dan mendamaikan antara kelompok yang bertikai di negeri tersebut.”

Wahai manusia, kembalilah ke rumah-rumah kalian maka akan selesai masalah ini, dan bersabarlah menghadapi pemerintah kalian.

Benar, kami mengingkari kudeta militer yang mereka lakukan terhadap pemerintah sebelumnya, apa yang mereka lakukan adalah kebatilan. Akan tetapi setelah mereka berkuasa maka wajib bagi kita untuk diam, walaupun boleh kita menuntut dikembalikannya kekuasaan kepada yang berhak tetapi dengan cara yang syar’i, bukan dengan cara mengerahkan masa, membunuh dan menduduki berbagai fasilitas umum.

Adanya kelompok-kelompok yang berpecah ini sejatinya adalah kebatilan, semuanya adalah taklid kepada Yahudi dan Nasrani, meskipun mereka menamakan diri dengan kelompok Islam. Akan tetapi aku katakan, mereka tidak punya pilihan kecuali hendaklah mereka bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Kemudian, menurut prinsip kelompok mereka (yang membolehkan pemilu) –meskipun aku tidak percaya dengan pemilu- hendaklah mereka bersabar menunggu pemilu berikutnya, sehingga mereka bisa memilih pemimpin selainnya. Walaupun hakikatnya sistem pemilu ini adalah thagut, aku tidak mempercayainya (hanya demi memperkecil mudarat).

Akan tetapi wahai Ikhwan, sampaikan kepada mereka (kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam di Mesir), hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menjaga darah kaum muslimin, dalam melindungi negeri mereka yang terjajah, negeri Kinanah.

Sampaikan kepada mereka risalah ini, kembalilah kepada akal sehat kalian, demi Allah tidak mungkin ada yang melakukan ini anak kecil, orang gila dan orang bodoh. Demonstrasi-demonstrasi ini adalah kerjaannya orang bodoh, orang gila dan tidak memiliki akal sama sekali, setiap mereka berteriak mendukung fulan, hidup fulan, jatuh fulan. Kita mohon kepada Allah ‘afiyah dan keselamatan.

Saudara-saudara kita yang menjauhi fitnah ini –segala puji hanya bagi Allah- mereka mengajak kepada agama Allah dan kepada sunnah, dan sampai hari ini mereka selamat dari ketergelinciran ke dalam fitnah ini dan selamat dari keterlibatan dalam membunuh kaum muslimin dan non muslim (yang belum pantas dibunuh) .

Aku mohon kepada Allah Al-Karim untuk menganugerahkan kebaikan kepada seluruh negeri kaum muslimin, merahmati mereka dan menyatukan kalimat mereka di atas tauhid.

Kembalilah kepada Sunnah wahai penduduk Kinanah (Mesir), kembalilah kepada tauhid, hancurkan kuburan yang disembah selain Allah, tinggalkan hizbiyah (fanatisme golongan) dan kelompok-kelompok sesat. Kembalilah kepada Rabb kalian, dan bersatulah dalam merealisasikan Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.

Hendaklah kalian (hadirin) menyampaikan seruan ini meskipun hanya melalui sebagian website. Aku mohon kepada Allah agar menganugerahkan kebaikan bagi kaum muslimin di setiap tempat.

وصلّى الله وسلّم وبارك على نبيِّنا مُحمّد وعلى آله وصحبه أجمعين

Diterjemahkan secara makna dari nasihat Syaikhuna Al-‘Allamah Shalih As-Suhaimi hafizhahullah pada majelis beliau di Masjid Nabawi Madinah, kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yang ditranskrip oleh :

Abu AbdirRahman Usamah jazaahuLlaahu khayron.

#source : nasihatonline.wordpress.com

Posted in Renungan | Leave a comment

BUAH MAKANAN YANG HALAL

knowledge
Diceritakan dari Mubaarak Abu ‘Abdillaah rahimahullaah: “bahwasanya dahulu dia bekerja disebuah kebun kepunyaan tuannya, dan beliau lama bekerja disana, kemudian tuannya sang pemilik kebun ( salah satu saudagar besar dari Hamadzaan ) suatu hari mendatanginya, dan berkata kepadanya: wahai Mubaarak, aku menginginkan buah delima yg manis.

Kemudian Mubaarak pergi kebeberapa pohon dan datang dengan membawa delima, lalu tuannya memecahkan buah delima tersebut dan dia mendapatkan buah itu kecut rasanya, lalu dia memarahinya dan berkata: aku menginginkan buah delima yg manis rasanya lalu kamu menyediakanku delima yg kecut ! berikanlah yg manis.

Kemudian Mubaarak pergi dan dia memetik dari pepohonan yg lain, dan ketika tuannya memecahkan buah delima itu, dia mendapatkan buah itu terasa kecut juga, lalu naik lah kemarahan tuannya kepadanya, dan Mubaarak melakukan hal itu sampai tiga kali, lalu tuannya merasakan buah itu dan mendapatkan buah itu terasa kecut juga, kemudian tuannya berkata kepadanya setelah itu: kamu tidak bisa membedakan antara yg manis dan yg kecut ?

Lalu dia (Mubaarak) berkata: tidak.
Lalu dia (tuannya) berkata: bagaimana bisa seperti itu ?
Lalu dia (Mubaarak) berkata: karena aku tidak akan memakan sesuatu sampai aku mengetahui (halalnya makanan itu –pent )
Lalu dia (tuannya) berkata: dan kenapa kamu tidak memakannya (delima – pent)
Dia (Mubaarak) berkata: karena kamu tidak mengizinkan aku untuk memakannya.
Maka terkejutlah pemilik kebun itu dari apa yg dia dengar dari percakapan itu, dan ketika terbukti padanya kejujuran hambanya, maka mulialah dia dimatanya, dan naiklah derajatnya disisinya, dan ketika itu dia mempunyai seorang putri yg sudah banyak orang datang untuk meminangnya, lalu berkatalah tuannya kepadanya: wahai Mubaarak, menurutmu, siapakah yg cocok untuk menikahi anak wanita ini ?

Kemudian dia ( Mubaarak ) berkata: dahulu orang- orang jahiliyyah menikahkan anak-anak mereka karena keturunannya, dan orang-orang yahudi menikahkan anak-anak mereka karena hartanya, dan nashaara menikahkan anak-anak mereka karena kecantikannya, dan Ummat ini (Islam) menikahkan anak-anak mereka karena agamanya.

Lalu senanglah pikirannya, dan pergilah dia lalu dia kabarkan kepada istrinya, dan berkatalah dia kepada istrinya: “aku tidak mendapatkan seorang suami untuk anak ini selain Mubaarak”.

Maka Mubaarak menikahlah dengannya, dan ayahnya memberikan harta yg sangat banyak kepada keduanya, lalu istrinya melahirkan ‘Abdullaah Ibnul Mubaarak, seorang ‘ULAMA BESAR TABI’UT TABI’IN, Ahli Hadiits Dunia, seorang yg zuhud dan seorang pejuang di jalan Allaah, yg mana beliau adalah buah yg sangat mulia dari pernikahan kedua orang tuanya pada waktu itu.

Sampai Al-Imam Fudhail bin ‘Iyaadh (IMAM TABI’UT TABI’IN) rahimahullaah bersumpah atas perkataannya: “Demi Rabb Pemilik rumah ini (Ka’bah), kedua mataku tidak pernah melihat orang yg seperti Ibnul Mubaarak”.
( Wafayaatul A’yaan 2 /237 dan Aina Nahnu min Haa’ulaa 5/184 )

Maka, jika anda menginginkan kebaikan kepada anda, keluarga anda di dunia dan akhirat maka perhatikanlah dari mana makanan dan minuman itu diperoleh, dan tidak memakan dan meminum kecuali dari yg halal.
Dari Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhuma, aku mendengar Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk kedalam surga, daging yg tumbuh dari harta yg haram. (HR. Ibnu Hibbaan, Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaani rahimahullaah 2/149 No. 1728)

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum

Source : page fb Abdullah Sholeh Hadrami

Posted in Kisah & Hikmah | Leave a comment

[Syair] Mitsaqon Gholizhoh

muslim-couple1

Duhai jalinan asmara..
sambut hari dalam naungan asa
sejuk terasa dalam dada
hangat menggoda menguntai makna

Duhai kicau burung yang merenda..
daun pun merekah, menari pendarkan rasa
menyambut sakralnya akad kidung taqwa

Menyingkap tabir rahasia,
diantara terseraknya raga…

#Bekasi Timur.. On mitsaqon gholizhoh 28 Mei 2013 / 17 Jumadil Tsani 1434 H

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.”
[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 7643, 8789). Syaikh al-Albani rahimahullaah menghasankan hadits ini, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 625]

Posted in Goresan Syair | Leave a comment

[Syair Muhasabah] Renungan Kematian

kematian

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pelebur kenikmatan!” (yakni: kematian) [HR. Tirmidzi dan yang lainnya, dengan sanad yang Hasan].
Mari mengingatnya melalui bait-bait berikut:

سَوْفَ يَمضِي بِنَا مَركبٌ لِلْوَداع
يَسْتَحِثُّ الخُطى والدُّموع الشِّراع
عَالَمٌ لم يــزلْ يَسْتَلِذُّ الْمَتَاع
أنْتُمُ إخْـوَتِي خَيْرُ هَذَا الْمَتَاع

Kita akan diangkut oleh ‘kendaraan perpisahan’ (baca: keranda kematian)
Yang harus diusung dg langkah kaki dan derasnya air mata kesedihan
(Meski) dunia terus mengajak kita, menikmati keindahannya
Dan kalianlah sahabat-sahabatku, sebaik-baik keindahannya

آهٍـ يَا إخْوَتِي بُـعدُكم لا يُراد
كيف أنسى أخي كيف يحلو الرقاد

Sahabat-sahabatku… Jauhnya kalian (karena kematian), tak mungkin diharapkan lagi
Bagaimana kan kulupakan sahabatku, bagaimana pula tidur indah kan kunikmati

دمْعُ عَيْنِي جرَى واستطَالَ السَّوَاد
يا إلَهَ الوَرَى اُلْطُفَنْ بِالعِـبَاد

Linangan air mataku terus mengalir (karenanya), hingga hitamnya garis mata tampak memanjang
Ya Tuhan alam semesta, berilah seluruh hamba-Mu lembutnya kasih sayang

دُنْيَانَا يَالَهَا تَجْرِي مَجْرَى السَّحَاب
وَهْيَ تَسْعَى بِنَا نَحْوَ يَوْمِ الْحِسَاب

Lihatlah dunia kita, ia lari seperti larinya awan
Dia berlari bersama kita, menuju hari perhitungan

إِخْوَتِي رَدِّدُوا صَوْتَكُم مُسْتَطَاب
لَسْنَا نَرْجُو سِوَى دَعْوَةً لِلصِّحَاب

(Seakan sahabat kita yg meninggal itu mengatakan:)

Sahabat-sahabatku, teruslah dg suara kalian yg baik (dan penuh berkat)
Kami tidak mengharapkan, melainkan doa (kebaikan) untuk para sahabat

إخوتي عاهِدوا اللهَ فوق السَّمَاء
أن يكونَ لنا في القريبِ لِقاء

Sahabat-sahabatku… berjanjilah kepada Allah yg berada di atas langit
Bahwa kita akan berjumpa dalam waktu dekat

إخوتي عاهِدوا اللهَ فوقَ السماء
أن يَرى كَفَّكم ضارِعًا بالدُّعاء

Sahabat-sahabatku… berjanjilah kepada Allah yg ada di atas langit sana
Untuk melihat tangan kalian, menunduk dengan doa (untuk kita).

 

Syair Renungan di atas:

Kurenungi bait-baitnya dengan mendalam… ia seakan barisan ombak yg terus berdatangan dalam pendengaran… beribu angan menghampiri pikiranku… dan perasaan halus terus mengusik jiwaku…

Kutanya diriku: benarkah ‘kendaraan perpisahan’ itu benar-benar akan menghampiriku?!
Akankah kutulis wasiat terakhir, kepada setiap orang yg kucintai, sebelum kepergianku?!
Lalu apakah isi wasiat terakhirku itu? Yang harus cepat ku tulis sebelum kutinggalkan duniaku?

Ibuku… bapakku… saudara-saudaraku… saudari-saudariku… rumahku… istriku…
sahabat-sahabat… teman-teman… rekan-rekan kerja… kenalan-kenalan… kantor… computer… internet?
Jalanan… masjid… anak-anak kecil di jalanan dan desa… detik-detik bahagia… masa-masa sedih, sakit, dan perjuangan… Akankah kutinggalkan dunia ini, yg terus mengajakku menikmati keindahannya… beserta semua saudara dan orang-orang tercinta yg hidup di dalamnya

Siapakah yg akan kuberi kata perpisahan?… Siapa pula yg akan kulupakan dari sapaan salam?… Bahkan, punyakah aku waktu yg cukup untuk menyampaikan salamku kepada semua orang yg kucinta?

Siapakah dari mereka yg sudi memaafkanku?… Siapa pula yg merasa kehilangan diriku?… Bahkan siapakah yg aku malah lebih kehilangan dia?

Canda-tawa manakah yg akan teringat dibenakku?… Dan wajah manakah yg akan mempengaruhi raut wajahku?… Berapakah lautan yg mencukupi mataku untuk mengucurkan tangisnya?

Bagaimana diriku akan sabar dan tahan setelah ini semua?…

Ya Tuhanku… betapa rapuhnya hati kami sebagai manusia, ketika pribadi-pribadi ini pergi bersama ruh yg bersih nan suci… Betapa kerasnya jeritan hati, untuk orang yg dilahap oleh waktu di hadapanku, atau aku yg dilahap waktu di hadapannya… Di masa sedih itu, betapa tingginya jeritan ‘aaaah’ di tenggorokanku yg ku sertakan bersama ruh-ruh kalian yg mulia

Maka terimalah suratku ini, yg berisi permohonan maafku, sebelum datang waktu itu… Saat jiwa lelahku, berada diantara tubuh yg tidak kuat lagi pergi menghampirimu…

Apapun kesalahan kalian terhadapku, maka sungguh aku mempersaksikan kepada Allah, bahwa aku telah merelakan dan memaafkannya… bahkan aku telah melupakannya… dan seakan tidak pernah ada… Maka maafkanlah salah-salahku!

Jika nantinya tanah telah menutupi jasadku… Dan alam lain telah melingkupiku… Maka ingatlah… Ingatlah, bahwa suatu hari, aku telah mengirimkan surat terakhirku ini… Dan janganlah lupa mendoakanku dengan doa yg baik di saat ku telah tiada

Aku benar-benar yakin, bahwa jeritan hatiku untuk sahabat-sahabat dan orang-orang tercintaku ini, nantinya juga akan menghampiri jiwa-jiwa kalian yg mulia… dan kalian akan mengirimkannya kepada setiap orang yg kalian cintai… kepada setiap orang yg kalian hargai… kepada setiap orang yg kalian hormati

Harapan-tertinggiku… Apabila sampai suratku ini… Balaslah surat ini dengan empat kata:
Aku telah memaafkanmu sahabatku…

 

Source : Addariny

Posted in Goresan Syair | Leave a comment

Suriah [Syam] Tanda Kebangkitan Umat

beneath the remain in syria

Keutamaan Tanah Syam

Tentang negeri Syam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Pergilah ke Syam karena ia adalah bumi pilhan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaik-Nya untuk kesana. Jika kalian tidak mau maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; dishahihkan Syaikh Al-Albani).

“Apabila penduduk Syam telah rusak maka tidak ada kebaikan pada kalian. Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang selalu beruntung tanpa terganggu dari orang-orang yang menipu mereka hingga hari kiamat.” (HR. Tirmizi no. 2351)

“Sesungguhnya kekuatan muslimin pada waktu itu di Ghuthah, di samping kota yang bernama Damaskus yang paling terbaik di negeri Syam.” (HR. Abu Daud no. 4300)

Bahkan secara khusus Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoa’kan negeri Syam dengan do’a yang luar biasa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengatakan: “Ya Allah, berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR. Al-Bukhari).

Imam Izz bin Abdussalam berkata, “Sesungguhnya kekuatan di kerajaan Islam, sebagian besar pasukannya yang berani di negeri Syam.” (Targhib Ahlil- Islam Fi Sukna Biladisy-Syam hal. 5)

Suriah adalah bagian dari negeri Syam. Inilah negeri yang dibuka pertama kali oleh khalifah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Tidak sedikit sahabat Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang shalih yang berhijrah kesana karena keutamaan-keutamaan negeri Syam. Dari negeri yang penuh berkah ini lahir ulama-ulama Islam besar, seperti: Imam Nawawi rahimahullah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, Ibnu Katsir rahimahullah, dan yang lainnya.

Dalam salah satu muhadharah Syaikh Nabil al-Awadhi  al-Kuwaity ditanya, “Ada apa dengan Suriah?”

Maka dijawab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka bukanlah golongan kaum muslimin.” (HR. Muslim).

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya.” (HR. Al-Bukhari).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim No. 2586).

Karena kita semua muslim Alhamdulillah, karena kita beriman kepada Allah Ta’ala. Karena Qur’an kita satu, Tuhan kita satu, syariat kita satu, tidak ada sekat dan pembatas yang menghalangi kita. Bukan karena nasionalisme dan kolonialisme yang telah memisahkan kita. Semua itu akan menjadi sampah sejarah dan umat ini akan kembali menjadi umat yang satu sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu kenapa mesti Suriah? Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah menguraikan keutamaannya, tidakkah kalian dengar hadits tentang akhir zaman?

Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan ada nanti tentara yang berjuang di Syam, tentara yang berjuang di Iraq, dan tentara yang berjuang di Yaman.”  Rasulullah ditanya, “Kemanakah saya harus bergabung? “.. Pergilah ke Syam.” (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat lain: “.. Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya di negeri tersebut.” (Shahih Tirmidzi).

Segala keberkahan ada di negeri tersebut, inilah Syam.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya saya melihat seakan-akan tonggak al-Kitab telah tercabut dari bawah bantalku. Maka, aku mengikutinya dengan pandanganku. Tiba-tiba terdapat cahaya terang-benderang yang mengarah menuju Syam. Ketahuilah, sesungguhnya iman, apabila telah terjadi beragam fitnah, berada di Syam.” [HR. Ahmad No. 21781, Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3092].

Syam, kita biasa melihat seperti negeri lain pada umumnya. Negeri kaum muslimin yang tentram, negeri yang biasa-biasa saja. Sekarang lihatlah revolusi yang terjadi disana, Allah Ta’ala menyiapkannya untuk hal lain, perhatikanlah slogan-slogan mereka: “Kami hanya memiliki-Mu ya Allah, kami hanya memiliki-Mu. Seluruh dunia meninggalkan mereka, semua meninggalkan.. Sehingga mereka sadar bahwa tidak ada kemenangan kecuali dari Allah, slogan mereka : Hasbunallah wa ni’mal wakiil.. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong.”

Negeri mereka akan berubah kearah kebaikan yang akan diberikan Allah. Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk umat ini, penundaan kemenangan..  saya memandangnya sebagai kebaikan. Kebaikan untuk umat ini, kita tidak mengetahui apa yang Allah persiapkan untuk negeri ini. Setiap tetes darah akan memberkahi negeri ini, semakin menyuburkan tanahnya.

Allah Subhanahu wa ta ‘ala berfirman, “Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169).

Revolusi di Libya, Tunisia, Mesir dan Yaman adalah revolusi yang berkah, tapi sifatnya perjuangan lokal. Tetapi yang terjadi di Suriah berada ditangan umat bersama, era baru untuk umat ini. Memang benar, apa yang terjadi di negeri-negeri tersebut adalah babak baru untuk umat ini. Tapi yang terjadi di Suriah adalah babak yang berbeda.

Pertama, ini adalah peperangan untuk eksistensi umat ini, dan dengan izin Allah kita akan menjadi umat yang eksis kembali.

Kedua, akibat tragedi  Suriah.. dan saya ingatkan kalian kalimat ini, akan ada perubahan besar menunggu umat ini. Imbas kemenangan Suriah dan kebangkitan umat.. sekali lagi di Suriah, dan kejayaan umat akan kembali di Suriah.. perubahan besar akan terjadi. Dominasi kekuatan akan berubah, dan semua kejahatan super power akan berakhir. Rencana besar yang diinginkan musuh untuk umat ini akan diberantas, dengan izin Allah. Ini jawaban pada mereka yang bertanya “Kenapa mesti Suriah?” mereka tidak memahami bahwa Suriah akan mengubah sejarah umat atas izin-Nya.

Syam berdasarkan sejarah adalah negeri yang terdiri dari beberapa negara saat ini, yaitu : Suriah, Palestina, Yordania dan Libanon. Jadi yang dimaksud negeri Syam dalam literatur sejarah Islam adalah wilayah dalam empat negara ini, dan Damaskus adalah ibukotanya.  Tapi sayang wilayah ini sekarang telah terpecah menjadi empat negara sebagai dampak dari imprealisme barat di masa lalu.

Negri Syam pada umumnya diberkahi oleh Allah Azza wa Jalla, terbukti banyak dari kalangan para Nabi ‘Alaihimussalaam yang lahir dan tinggal di sana. Tanahnya yang subur dengan berbagai hasil buminya terutama zaitun hingga sekarang terasa. Termasuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, telah diperjalankan oleh Allah ke sana (Baitul Maqdis) sebelum menuju sidratul muntaha; sebagaimana dalam kisah isra’ mi’raj yang masyhur. Dalam salah satu ayat dinyatakan yang maknanya “…..yang kami berkahi di sekelilingnya…” (QS, Al-Isra’: 1).

Para mufassirin menyatakan tentang negri Syam pada umumnya dan mengenai kota Al-Quds di Palestina khususnya bahwa Allah menjadikan di sekelilinganya barakah bagi penduduknya dalam kehidupan, perbekalan, pertanian dan cocok tanam1. Di sekelilingnya banyak pohon dan sungai serta kesuburan tanah yang terus menerus2.

Sementara dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyatakan: “Ya Allah berkahilah kami yang ada di kota Madinah, berkahilah dalam takaran kami (sha’ dan mud), berkahilah Yaman dan Syam kami. Kemudian beliau menghadap kearah matahari lalu bersabda: Dari sini muncul tanduk setan, dari sini terdapat goncangan dan fitnah. (HR. Ahmad dan Al-Bukhari) ”3

Bahkan hingga akhir zaman pun terdapat nash berupa hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam akan Allah turunkan pada akhir zaman di manaar al-baidha’ di Damaskus dan manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di bumi Syam4.

Kondisi Syam [Suriah] Sekarang

Semenjak bulan Maret 2011 yang lalu hingga saat ini, negeri Syam atau khususnya Suriah sedang terkoyak. Siapapun yang melihat tragedi disana  dan yang menimpa kaum muslimin sunni di sana pasti akan mengelus dada dan tak kuasa untuk menahan air matanya. Mereka dibantai, dan yang membantai dari kalangan mereka sendiri. Kaum sunni yang tadinya merupakan mayoritas penduduk negeri itu di siksa dan dianiaya disebabkan karena aqidah yang pertama sebelum karena sebab politik. Kaum Syi’ah yang merupakan minoritas penduduk negeri itu mendapat dukungan dari Iran (yang notabenenya adalah negara syi’ah terbesar). Hanya saja kalangan Nushairiyah yang ada di sana menjadi kuat karena presidennya mendukung mereka.

Mengenai sebab dikuasai Suriah oleh kaum Nushairiyah karena ahlussunnah di sana tidak peduli terhadap urusan ini, mereka berselisih diantara sesamanya dan musuh mengambil manfaat dari keadaan ini. Padahal ahlussunnah di Suriah mereka berjumlah 86 % dari penduduk, sementara yang lain 6% dari kaum Nashara dll. Telah tercatat bahwa pada tahun 1982 di Suriah juga terjadi pembantaian sebanyak 45.000 orang di masa pemerintahan ayahanda presiden mereka sekarang Hafidh Al-Asad. Tadinya penduduk Suriah berharap anaknya akan menjadi pemimpin yang bijak dan arif tidak sebagaimana ayahnya, namun sebagaimana pepatah kita mengatakan ”Buah tidak jauh dari pohonnya” sementara pepatah Arab mengatakan: ma fil aabaa’ fil abnaa’ “Apa yang dimiliki orang tua berupa watak, akan menurun pada anaknya”. Bassyar sebagai presiden sekarang ini tidak hanya menelan korban jiwa yang selama ini terjadi untuk mempertahankan kekuasaannya, namun bangunan-bangunan juga menjadi hancur bahkan masjid-masjid pun tak terhindarkan menjadi sasaran mereka. Mushhaf Al-Qur’an yang suci pun mereka nodai dengan merobek atau mengotorinya serta mencampakkannya di tempat sampah atau tempat najis lainnya.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalas perbuatan keji para syi’ah dan antek-anteknya… menghancurkan dan meluluh-lantakkan barisan yang berniat menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Hasbunallah wa ni’mal wakiil.. Semoga Allah Jalla wa ‘ala menolong dan memenangkan perjuangan para mujahidin di negeri Syam, baik di Suriah dan Palestina.. Allahumma aamiin.

*) Fursanul Izzah, Maret 2013 – dari berbagai sumber

Foot Note :
1 Tafsir Al-Thabari jilid ke-15-16 hlm.22
2 Tafsir Al-Sa’di jilid ke-4 hlm. 259.
3 Silsilah As-Shahihah oleh: M. Nashiruddin Al-Albani jilid ke-5 hlm. 655.
4 Al-Irsyaad ila Shahiih Al-I’tiqaad oleh: Dr. Shalih Al-Fauzan hlm.245

Wahai Jiwa Yang Merdeka [ أيها الأحرار ]
أّيهَا الأحرَارُ سيروا للخُلُود .. واعْبُرُوا جِسرَ المَنَايَا واللُّحُود
Wahai jiwa yang merdeka, teruskan perjalanan yang abadi… (menjemput Syahid)
Dan lintasilah jembatan kematian dan liang lahat..

إنَّمَا تُدرَكُ بالمَوتِ العُلا .. وكَذَا الأمجَادُ بالسِيْفِ تَعُود
Sesungguhnya ketinggian derajat itu diraih dengan kematian.. (syahid)
Dan begitu juga kemuliaan, akan kembali dengan pedang (jihad)

لاَحَتِ الجنّاتُ مِن خَلفِ العِدَى .. فاعْبُرُوا الأَهوَال للمِجدِ التَلِيد
Surga Allah sedang bersinar di belakang para musuh..
Maka lintasilah rintangan (musuh) itu menuju kemuliaan yang agung

لا تهابوا زمرةَ اللِّيْلِ فَمَن .. يَعتَصِم بالله حتمًا سَيَسُود
Jangan takut kegelapan malam, maka barangsiapa berpegang teguh dijalan Allah (akan janji dan syariatNya) sudah pasti akan menang

موعِدُ الحَسِمِ أتَى فلتُقدِمُوا .. لَقِّنُوا البَاغِين درسًا فِي الصُمُود
Waktu perjuangan telah tiba maka majulah ke depan..
Berilah musuh-musuh yang ingkar itu satu pelajaran, tentang ketabahanmu

واقْلَعُوا الأَشْوَاكَ مِن جَنَّاتِهَا .. وازْرَعُوهَا مِن جَدِيدٍ بالوُرُود
Dan cabutlah duri-duri itu dari tanahnya (tamannya)….
Dan tanamkanlah kembali di tempat itu dengan mawar-mawar (yang harum).

[Syair Perang Panjang – 2013]

Posted in Catatanku | 12 Comments

[Syair] MERETAS JEJAK YANG TERSERAK

landscape2

Duhai mega yang melaju berarak
aku datang ‘tuk sambut asa di pundak
merenda makna riak yang mengombak
meretas jejak diantara yang terserak,

Duhai penantian yang dulu sirna
kini massa itu berderap menjelma
diantara henyak dan debar di dada
beringsut mendekat melepas dahaga,

Duhai sayap yang menguntai indah
ulur kepakmu iringi doa yang membuncah
basuh resah diantara gelisah
yang lama tergadai dan terkulai lemah..

#Bdg to Bks – 17 Maret 2013M/5 Jumadil ‘Ula 1434H

Posted in Goresan Syair | 2 Comments

Pujangga, Medan Jihad dan Syahaadah!

Ibnu rawahah

Ketika untaian bait mengukir di dinding hati,
kiranya keteguhan datang menyambangi,
usir risau dan ragu disanubari,
tancapkan kaki songsong kibaran panji,

Mengayun… menebas hingga kilatan di zirah teteskan luka,
tunaikan janji syahid di medan laga.

Teruntuk sang Mujahid Abdullah Ibnu Rawahah radhiyallohu ‘anhu..

[Al-Faqir Ilalloh – Bandung, Rabiul Awwal 1434H/Januari 2013]

——————-0O0——————-

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar. Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuan bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam.
Dan Rasullullah Shallallahu alaihi wasallam menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.
Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: “Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?”
Jawab Abdullah: “Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan”. Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:

“Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri.
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu.
Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka hendak menjawab atau membela,
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda bawa,
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa”.

Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: “Dan engkau pun akan diteguhkan Allah”.

Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada ‘umrah qadha, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya:

“Ya Rabbi,
kalaulah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk,
tidak akan bersedekah dan shalat!
Maka mohon diturunkan sakinah atas kami
dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami,
biIa mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang”.

Ketika di medan juang Abdullah Ibnu Rawahah berdiri tegak sejenak lalu berkata,
” Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang,
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan,
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan…
Mati syahid di medan perang…!!”

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah bak singa kelaparan. Menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan peduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:
“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

Nun jauh di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid ….. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ….”. Beliau berdiam sebentar, lalu diteruskan ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia pun syahid pula”.
Kemudian Rasul Shallallahu alaihi wasallam diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”

Perjalanan manalagi yang lebih mulia . Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia.
Mereka maju ke medan laga bersama-sama. Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula.

Dialah Abdullah Ibnu Rawahah radhiyallohu ‘anhu, sang pujangga dan mujahid sejati yang bersemboyan :
Wahai Diri…
Jika kau tidak gugur di medan juang…
Kau tetap akan mati…
Walau di atas ranjang…

Semoga Allah Ta’ala meridhoi Abdullah Ibnu Rawahah [wafat pada tahun ke-8 H/ 629 M]

NOTE:
* Mu’tah adalah nama sebuah kampung di wilayah Balqaa’ Syam

Posted in Kisah & Hikmah | 2 Comments

[Based on true story] KISAH JANDA MUDA SURIAH

jandasuriah

Biasanya pasangan pengantin baru akan melalui hari-harinya dengan penuh keindahan dan kesenangan, serta tidak sedikit dari mereka yang pergi ke tempat rekreasi untuk berbulan madu.

Hal itu tidak berlaku bagi pengantin baru di Suriah. Tidak ada kata bersantai-santai atau bercumbu mesra seharian dengan pasangan, tetapi sang istri harus menyiapkan peralatan perang untuk suaminya, inilah kurang lebih yang diceritakan Fathi At-Tamimi, relawan Indonesia untuk Suriah yang saat ini berada di Turki dalam status Facebooknya pada Rabu (22/08).

Dia menuturkan, Perempuan 20 tahun hafal Al-Qur’an itu dengan berlinang airmata menjahit sendiri baju tempur suaminya yang baru dinikahi dua mınggu saat pertempuran pertama memanggil para patriot membela agama Kemudian mengenakannya pada suatu malam yang diisi satu doa dibaca agak keras berulang-ulang saat sujud panjang.

“Bila suamiku adalah milik para Bidadari-Mu, Jangan kembalikan ia padaku,

Bariskan sebanyak mungkin mereka di pintu langit untuk menjemputnya.

Tapi bila berjodoh sampai lama, Jangan Engkau biarkan sebuah lubangpun pada pakaian ini.

Aku akan bergembira apapun keputusan-Mu

Dan jadikanlah ia pendampingku di dunia dan di Surga.”

Sang suami yang mengintip adegan tersebut lalu bertempur bagai singa luka, tiga tank dirusak sendirian, Maju paling depan kembali paling belakang, Belum pernah punggungnya dilihat musuh, Melegenda dıantara kawan lawan, dibakar doa dan kepasrahan istri tercinta.

Disaat yang sama, istrınya bekerja keras membantu korban-korban perang, menghibur mereka, menjamin sandang pangan papan, merawat luka, mendoakan para pejuang, menjadi pemimpin grup relawan terdiri dari keluarga mujahidin atau yang ditinggalkan.

Ketika akhirnya Bidadari Surga menjemput suaminya di pintu langit, Para komandan grup seluruh Suriah bahkan yang bermarkas di gunung-gunung datang atau mengirim utusan berbela sungkawa

“Suamimu, Abu Umar, Adalah pahlawan dan kebanggaan kami, Semoga akan banyak laınnya di negeri ini.”

Ketika banyak orang kaya di negara-negara Arab mendengar kisah beliau, Mereka berlomba melamarnya, Tapi beliau enggan dan membaktikan hıdupnya demi rakyat, berjanjı tıdak akan menikah lagi hingga Suriah bebas dari rezim Syi’ah.

Perempuan itu namanya perlahan mulai berkibar, Jadi contoh ketabahan gadis-gadis lain dan sekarang dijulukı Oummus Suuri, Ibunya Suriah. Namanya Ahlam Al-A’ini darı Homs.

Kisah ini dicerıtakan langsung oleh salah satu korban perang yang sempat dırawat oleh beliau di RS. lapangan di Homs dan sekarang berada di kamp pengungsian di Turki. (bms)

Sumber: gemaislam

Posted in Kisah & Hikmah | 6 Comments

[Based on true Story] Dawood Al-Brittani, Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia

dawood-al-brittani

Dawood, begitulah pria asal Inggris tersebut mengganti namanya setelah memeluk Islam. Ia adalah mualaf yang gugur di medan jihad pada usianya yang sangat muda, 29 tahun. Namanya begitu populer setelah memutuskan diri untuk membela kaum Muslim dalam pertempuran melawan Pasukan Kroasia di Bosnia pada 1993. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen. Sejak kecil, ia didik dengan doktrin Kristen hingga menginjak dewasa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja pada salah satu perusahaan Komputer di Inggris.

Hingga suatu pagi, Dawood mengagetkan semua orang di kantornya. Tiba-tiba saja, pagi itu ia muncul dengan cara berpakaian berbeda dari biasanya. Ia berpakaian layaknya Muslim di Timur Tengah. Ternyata, Dawood telah menjadi seorang Muslim. Pakaian yang bernuansa Muslim itu pula yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Dawood muda kebingungan. Tidak hanya keluarga, tapi rekan-rekan ditempatnya bekerja juga menolaknya. Karena dia sudah menjadi seorang Muslim. Tak ada yang mau menerimanya ketika itu, selain saudara-saudaranya dari komunitas Muslim.

Ia memutuskan untuk berangkat ke Bosnia bersama dua orang rekan Muslimnya yang lain. Mereka bergabung bersama Muslim Bosnia dengan tujuan bisa hidup secara Islam dan ingin belajar ilmu-ilmu keislaman. Empat bulan telah berlalu. Beberapa rekannya dari Inggris mengajaknya untuk pulang ke Inggris. Ia menolaknya. Akhirnya ia tetap menetap di Bosnia.

Ia seorang yang sangat cepat belajar ilmu-ilmu Islam. Dawood juga dengan cepat menguasai bahasa Arab. Teman-temannya bercerita bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat dan teguh memelihara sunah. Ia termasuk sosok yang disayangi oleh teman-teman dan saudara-saudaranya sesama Muslim di Bosnia.

Ia tidak melewatkan untuk shalat malam, walau cuaca teramat sangat dingin. Bahkan ia sering berdoa sepanjang malam. Ia hanya tidur sebentar dengan posisi tidur meringkuk ke kanan.

Setelah beberapa waktu kemudian, ia bergabung dengan mujahidinBosnia dibawah komando Abul Harith. Komandannya juga sangat menyayangi Dawood karena kasalehannya.

Malam sebelum Dawood gugur di medan pertempuran, ia sempat bermimpi. Dalam mimpi tersebut, ia berjalan di antara dua sisi istana yang sangat besar dan megah.

Ia sempat bertanya ” Siapakah pemilik Istana yang megah ini ?”

“Inilah milik salah seorang syuhada” begitulah jawaban dari mimpinya itu.

Dawood bertanya lagi, “Dimanakah istana milik Abu Ibrahim?” Abu Ibrahim adalah salah seorang teman dekat Dawood yang berkebangsaan Turki. Mereka dahulu bersama-sama datang dari Inggris. Abu Ibrahim ditembak mati oleh PBB Prancis didekat Bandara Sarajevo.

Suara dalam mimpi Dawood tersebut menjawab ” Istana Abu Ibrahim ada di sana”.

Dalam mimpi itu Dawood berlari menuju rumah teman dekatnya Abu Ibrahim. Dalam berlari itu ia terjatuh hingga ia bangun dari tidurnya kemudian menceritakan mimpinya.

Komandannya Abul Haristh sudah menduga bahwa Dawood mungkin akan gugur di medan pertempuran berikutnya setelah mendengar cerita mimpi Dawood. Mungkin saja ia akan segera menyusul sahabatnya Abu Ibrahim, karena ia ceritakan dalam mimpinya bahwa ia berlari menuju Istana Abu Ibrahim.

Keesokan harinya Dawood terlibat dalam sebuah operasi militer melawan Pasukan Kroasia. Dawood tertembak tepat di jantungnya dan tewas seketika. Ia berguling ke bawah bunker Kroasia yang mengakibatkan jasadnya tidak bisa diambil.

Setelah tiga bulan berikutnya, barulah jasad Dawood ditemukan oleh Pasukan Mujahidin. Diceritakan oleh Komandannya Abul Haritsh bahwa jasad Dawood saat ditemukan sudah berbau kesturi. Jasad tersebut ditemukan seperti posisi Dawood tertidur yaitu meringkuk menghadap ke kanan.

Subhanallah, Semoga Alloh Ta’ala memberinya pahala Syahid, aamiin.

#Source: Abu Dujanah/KisahMuallaf

Posted in Kisah & Hikmah | 4 Comments